Kamis, 03 Mei 2018
Mengenal Permasalahan Bangsa Saat Ini dan Bagaimana Cara Mengatasinya
Indonesia merupakan salah satu negara yang berada dikawasan Asia Tenggara. Letaknya yang strategis yaitu diapit oleh dua benua dan dua samudra serta merupakan jalur khatulistiwa menjadikan negara Indonesia ini kaya akan segala hal. Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, dan dengan kondisi 2/3 wilayah Indonesia adalah lautan membuat Indonesia menjadi salah satu negara maritim di dunia.
Tidak hanya kaya akan sumber daya alam saja, Indonesia juga sangat kaya akan berbagai keberagaman suku, ras, budaya, dan agama. Ada banyak suku di Indonesia dengan didukung budaya yang banyak pula. Begitu pula dengan Agama. Indonesia memiliki enam agama resmi yang diakui negara. Karena sesuai dengan sila pertama pancasila, yaitu ―Ketuhanan Yang Maha Esa‖. Hal itu membuktikan bahwa Indonesia merupakan negara yang berketuhanan dan membebaskan warga negaranya untuk memilih agama yang dianut.
Tidak hanya itu, dalam hal suku dan budaya juga Indonesia begitu menjunjung tinggi dan menghargai keberagaman suku dan budaya, yang mana hal tersebut dapat dijadikan bukti kekayaan Indonesia dimata dunia. Meskipun begitu Indonesia bukanlah negara yang sempurna. Indonesia jika dibandingkan negara lain juga masih sangat jauh tertinggal. Masih terlalu banyak konflik yang terjadi di Indonesia. Pengertian konflik sendiri menurut Zein (200) ―Sebuah perdebatan atau pertandingan untuk memenankan sesuatu. Ketidak sejujuran terhadap sesuatu, argumentasi, pertengkaran atau perdebatan.Perjuangan, peperangan atau konfrontasi. Keadaan yang rusuh, ketidakstablian gejolak atau kekacauan‖.1
Untuk saat ini permasalahan atau konflik SARA yang terlihat semakin bergejolak. Dengan banyaknya suku, agama, dan ras Indonesia masih sulit mengkontrol konflik-konflik agar tidak terjadi. Konflik SARA justru menjadi
1 http://www.spengetahuan.com
konflik yang paling mengerikan saat ini. Konflik SARA yang tengah marak terjadi justru dijadikan ajang senjata untuk berpolitik. Bisa dikatakan konflik SARA lebih berbahaya daripada konflik politik uang atau konflik lainnya. Karena apabila konflik SARA ini berkelanjutan bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami perpecahan.
Konflik mengenai isu SARA yang sedang marak beberapa waktu belakangan ini, sebagai berikut:
- Kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahja Purnama.
- Kasus penyebaran berita hoax berunsur SARA oleh sindikat Saracen.
- Kasus pembacaan puisi oleh Sukmawati Soekarno Putri.
- Kasus makar oleh Sri Bintang Pamungkas.
Berikut analisis dari berbagai kasus tersebut.
- Kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahja Purnama.
Basuki Tjahja Purnama atau yang akrab dipanggil Ahok merupakan gubernur DKI Jakarta periode sebelumnya. Beliau berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat. Sebelumnya Ahok sendiri adalah wakil dari Joko Widodo sebelum beliau menjabat sebagai presiden.
Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, 2016 lalu Ahok berpidato dihadapan para warga Kepulauan Seribu. Pidato tersebut awalnya merupakan sosialisasi terhadap pengembangan perikanan dalam rangka meningkatkan tariff hidup masyarakat, tetapi di tengah pidatonya Ahok menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51 di dalam Al-quran. Karena kejadian tersebut secara otomatis banyak umat islam tidak terima hingga ditahun yang sama juga tindakan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok dibawa ke ranah hukum.
- Kasus penyebaran berita hoax berunsur SARA oleh sindikat Saracen.
Saracen merupakan sindikat yang aktif menyebarkan berita bohong berunsur
SARA. Dalam tindakannya Saracen merupakan sindikat yang terorganisir. Sudah banyak berita kebohongan yang disebar Saracen melalui sosial media. Berita
kebohongan yang disebarkan oleh Saracen sendiri selalu berunsur SARA dan berkaitan dengan politik.
Dapat diartikan bahwa perang politik di Indonesia dapat menyebabkan banyak terjadinya konflik. Tak lupa juga demi kepentingan pribadi dalam politik, orang rela membawa unsur SARA yang mana sangat sensitif.
- Kasus pembacaan puisi oleh Sukmawati Soekarno Putri.
Baru-baru ini dalam sebuah acara yang bertajuk kebudayaan Indonesia, putri dari presiden pertama Indonesia Sukmawati Soekarno Putri membacakan sebuah puisi berjudul ―Ibu Indonesia‖. Tidak ada yang salah dari judul puisi tersebut, tetapi puisi tersebut menuai konflik dan dianggap kontroversial dikarenakan isinya.
Isi dari puisi tersebut dinilai mengandung unsur membandingkan budaya dan agama. Sukmawati Soekarno Putri pun dianggap melecehkan agama islam dengan mengatakan bahwa suara kidung jauh lebih indah dari suara adzan. Sebab beliau tak mengerti syari’at islam.
Para ulama dan penyair pun tenta tidak terima atas isi puisi tersebut. Sukmawati sendiri sudah mengadakan konferensi pers yang mana beliau meminta maaf langsung atas tindakan yang telah disengaja tersebut. Indonesia adalah negara hukum. Bagaimanapun Sukmawati sudah meminta maaf, proses hukum sudah seharusnya tetap dilaksanakan. Karena apa yang sudah dilakukan oleh Sukmawati telah melanggar UU hukum pidana (KUHP) pasal 156 tentang penodaan agama.
- Kasus makar oleh Sri Bintang Pamungkas.
Sri Bintang Pamungkas tak pernah bosan untuk terus masuk dipanggung politik. Dalam keadaannya sebagai tersangka pun beliau masih menyemarakkan perlawanan terhadap Presiden Joko Widodo. Sri Bintang Pamungkas mengemukakan perlawanan menolak Joko Widodo menjabat selama dua periode.
Tidak heran satu tahun menuju masa berakhirnya pemerintahan Joko Widodo serta persiapan pilpres 2019, banyak sekali pelakon-pelakon politik muncul kepermukaan. Tidak tertinggal Sri Bintang Pamungkas yang masih menjadi tersangka akibat perbuatan makar 2016 lalu kini kembali berulah.
Makar menurut Dr. Mudzakir, SH.,MH adalah ―suatu tindakan yang membuat pemerintah tidak dapat menjalankan fungsi dan tugasnya sesuai undang-undang. Tindakan makar menurut pasal 107 KUHP terdiri dari enpat macam yaitu, tindakan makar terhadap pemerintah, makar wilayah, makar ideology, dan makar terhadap presiden atau kepala negara.‖2
Sri Bintang Pamungkas kembali dilaporkan oleh Pusat Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ke Polda Metro Jaya atas tuduhan menyebarkan informasi mengandung suku, agama, ras dan antargolongan (SARA), lantaran menyebut
agama islamnya Presiden Jokowi berpura-pura. Selain menebar SARA kepada Jokowi, Sri Bintang juga menyebut orang cina di Indonesia yang masuk agama Islam hanya berpura-pura.
Sri Bintang Pamungkas sendiri justru mendukung capres impiannya. Beliau mengusung gubernur DI Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono X untuk menjadi capres 2019.
Sejumlah konflik yang sudah dipaparkan diatas menandakan bahwa Indonesia benar-benar dalam keadaan darurat mengenai isu SARA. Masih banyak lagi konflik konflik berunsur SARA yang sungguh sangat memperihatinkan. Seharusnya keberagaman suku, budaya, ras, dan agama dapat menjadikan kita bangsa yang hebat di mata dunia. Bukan dijadikan sebagai senjata untuk mengkudeta satu dengan yang lain. Sesuai nilai pancasila sila ketiga, ―Persatuan Indonesia‖ seharusnya seluruh warga negara baik yang terikat dalam politik, pemerintahan, ataupun warga biasa haruslah menyadarkan diri betapa pentingnya kesatuan dan persatuan demi keutuhan bangsa ini.
2 http://www.definisimenurutparaahli.com
Hukum di Indonesia pun harus semakin ditegaskan. Agar para oknum jera dan berhenti membuat kericuhan berunsur SARA. Selalu mengingat dan melakukan perbuatan berdasarkan nilai pancasila juga merupakan cara yang tepat untuk menjauh dari segala konflik.
Terutama unsur SARA sendiri. Isu SARA merupakan konflik yang paling sensitif. Semua aktivitas yang terjadi di Indonesia sebisa mungkin dijauhkan dari segala hal berunsur SARA. Hal tersebut dilakukan untu menjaga kesatuan dan persatuan.
Untuk menjemput Indonesia emas 2045 menjadi peran penting bagi semua warga negara. Terutama mengeratkan persaudaraan, dan menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika. Menjauhi konflik-konflik yang menimbulkan perpecahan. Serta tetap berada dalam politik yang bersih.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar